Motifasi Belajar

CARA TEPAT

MEMOMPA MOTIVASI BELAJAR ANAK SD

Dengan metode yang tepat, hasilnya pun jadi maksimal.

Kiat memotivasi anak untuk belajar berbeda-beda menurut usianya. Di jenjang SD, usia ini dikelompokkan dalam dua kategori, yaitu kelas rendah (kelas 1-3 SD) dan kelas atas (kelas 4-6 SD). Masing-masing kategori, menurut Karmila Wardhana, S.Psi., memiliki ciri khas yang berbeda. Ikuti lebih jauh penjelasan praktisi psikologi dari Empati Development Centre, Jakarta ini agar kita dapat mengambil langkah yang tepat.

KELAS 1-3 SD

Anak-anak di kelas bawah masih menapaki masa transisi dari taman kanak-kanak yang aktivitas belajarnya dilakukan sambil bermain ke jenjang sekolah dasar yang formal. Maksudnya, mereka dituntut untuk banyak berada dalam kelas dan duduk tenang memperhatikan penjelasan guru serta mengerjakan tugas-tugas.

Tuntutan tersebut tentu saja menyulitkan karena sebenarnya murid-murid kelas rendah masih dalam usia bermain. Sayangnya, banyak orang tua, bahkan guru, melupakan ciri khas usia ini. “Anak kelas 1-2 belum bisa diharapkan duduk lama karena rentang perhatiannya maksimal sekitar 15 menit. Jadi mereka bukan nakal kalau enggak bisa diam di kelas.”

Berkaitan dengan masa transisi ini pula, seperti dituturkan Mila, orang tua mesti peka dengan kemungkinan munculnya school phobia pada anak. Pahamilah bahwa perubahan-perubahan dari TK ke SD sering membuat murid kelas rendah “ketakutan”. Salah satu penyebabnya, menurut Mila, “Ketika di TK, misalnya, anak hanya berhadapan dengan sejumlah kecil orang dan masih bisa ditunggui. Tapi saat SD, anak, kan, harus bertemu murid-murid dari kelas 1 sampai kelas 6. Sementara orang tuanya tidak bisa menunggui.”

Belum lagi masalah karakter guru. Guru-guru TK yang biasanya manis-manis dan lembut digantikan dengan guru SD yang tegas. Tidak heran kalau banyak anak berkesimpulan gurunya galak padahal guru SD memang dituntut bersikap lebih tegas karena jumlah murid yang lebih banyak. “Kondisi-kondisi seperti itu,” imbuh Mila, “acapkali membuat anak jadi merasa tidak aman lalu tidak mau sekolah.”

Agar anak dapat melalui masa transisinya dengan mulus, orang tua dapat membantu dengan memberikan motivasi belajar yang pas menurut ciri khas anak usia kelas 1-3 SD atau kurang lebih 6-8 tahun. Inilah pokok-pokoknya:

. Belajar sambil bermain

Pada prinsipnya hampir sama dengan cara belajar anak TK. Namun, untuk anak SD alihkan ke cara bermain yang lebih konstruktif. “Tolong ambilkan Bunda 2 cokelat, dong. Nah, di tangan Bunda sudah ada 1 cokelat. Bunda jadi punya berapa cokelat sekarang? Suasana belajar pun tak perlu harus serius. Jadi tak selalu harus belajar dibelakang meja, bisa juga sambil tiduran di lantai, misalnya.

. Manfaatkan PR

Sampai saat ini Pekerjaan Rumah (PR) untuk murid kelas rendah masih menjadi pro-kontra. Menurut Mila, selama tidak berlebihan, sebenarnya PR banyak memberi manfaat. Salah satunya untuk mengulang sedikit pelajaran yang sudah didapat anak di sekolah. Masalah timbul kalau anak sering dijejali PR. Inilah yang menjadi beban bagi anak.

Manfaat PR lainnya, orang tua bisa mengetahui perkembangan anak. PR juga bisa dijadikan sebagai ajang kelekatan antarorang tua-anak. “Kalau setiap kali mengerjakan PR anak selalu ditemani orang tua, maka akan terjadi kelekatan. Bahkan, orang tua bisa memasukkan penanaman bahwa belajar penting untuk masa depan. Ini, kan bisa masuk dalam obrolan saat mengerjakan PR,” ujar Mila.

Jadi, walau terdengar klise, manfaat yang didapat cukup besar. Salah satunya, anak merasa mendapat dukungan moral. “Walau PR-nya terasa susah, jika ada orang tua yang menemani, anak merasa di-support.”

. Beri dukungan

Dukungan memang selalu diperlukan, terutama saat anak menghadapi masa-masa sulit di sekolah. Bentuknya bisa sangat sederhana, misalnya ketika anak memperoleh nilai buruk, kita tidak perlu menjatuhkan vonis bahwa ia bodoh atau pemalas. Lebih baik, luangkan waktu untuk mendiskusikan masalah tersebut dengan anak.

“Sebagai awal, orang tua perlu mencari tahu perasaan anak ketika memperoleh nilai 5. Apakah ia kecewa, sedih atau biasa-biasa saja, karena jangan-jangan ia tidak mengerti bahwa nilai 5 itu berarti kurang.” Lalu tetaplah beri dukungan. “Untuk hari ini enggak apa-apa dapat 5. Kamu bisa dapat nilai yang lebih baik di ulangan berikutnya, tapi kamu harus belajar.” Dukungan seperti itu sangat berarti buat anak. “Kalau orang tua marah, kepercayaan diri anak malah hilang. Sudah enggak pede di sekolah, anak juga enggak pede di rumah. Kan, kasihan.”

. Jadilah model yang baik

Ini berarti orang tua jangan sampai terlihat santai saat anak sedang belajar. “Misalnya, ketika sedang mengerjakan PR anak melihat ibunya menonton televisi dan ayahnya tidur. Bisa-bisa anak merasa diperlakukan tidak adil. ‘Ih, ayah, kok, bisa tidur sedangkan aku harus belajar?'”

Akan lebih baik bila saat anak belajar, orang tua juga tampak “belajar”, seperti menemani anak sambil membaca koran atau buku. Dengan begitu anak akan mendapat panutan.

. Tetapkan jam belajar

Misalnya, dari jam 5 sampai 7 disepakati sebagai jadwal belajar anak. Namun, jadwal harus dibuat dengan mempertimbangkan jam sekolahnya. Berilah ia waktu untuk beristirahat sebelum waktu belajar. Saat waktunya belajar, anak harus diberi pengertian bahwa rentang waktu itu harus diisi hanya untuk kegiatan belajar. Artinya ia tidak nonton teve, tidak mendengarkan radio, atau tidak bermain playstation. “Harus ada komitmen seperti itu. Lama-lama anak akan terbiasa, sehingga saat tiba waktunya belajar semua anggota keluarga di rumah akan belajar, tidak ada yang berisik.”

ANAK 4-6 SD

Anak-anak SD kelas atas sebenarnya sudah diharapkan memiliki self learning regulation atau kesadaran untuk belajar sendiri. Jika pada anak kelas 1-3 SD, orang tua masih sangat terlibat dalam proses belajar anak, maka pada anak kelas 4-6 SD orang tua hanya jadi pendamping saja. Mereka sudah harus tahu apa yang mesti dikerjakan.

Namun begitu, orang tua tetap perlu menumbuhkan motivasi belajarnya agar tak kendur. Caranya, ingatlah bahwa salah satu ciri anak usia ini adalah penggunaan logika yang
sudah semakin mendalam. Orang tua perlu memberi alasan-alasan yang masuk akal tentang pentingnya belajar. Berikut beberapa kiatnya:

. Kaitkan dengan kegemaran anak

Misalnya, kalau kegemaran anak adalah menonton acara kuis di TV, orang tua bisa memberi komentar. “Dia bisa menang dan dapat hadiah mobil karena pintar. Wah, pasti dari kecil dia sudah senang belajar dan bisa mengatur waktu, deh!”

. Ajak untuk membuat jadwal

Pada usia ini biasanya anak mulai memiliki banyak kegiatan. Ada latihan basket, renang, jalan-jalan dengan teman, juga main games. Oleh karena itu, libatkan anak dalam pengaturan jadwal kegiatannya. Jelaskan bahwa anak boleh memiliki kegiatan apa pun, tapi belajar merupakan prioritas utama. Dengan diberi pengertian seperti itu dan dibiarkan mengatur jadwal sendiri, ia tidak akan merasa terpaksa. Jangan lupa, keterpaksaan hanya akan mengendurkan motivasi anak dalam belajar.

. Rencanakan masa depan

Karena murid-murid kelas atas, terutama kelas 5 dan 6 sudah akan memasuki sekolah lanjutan, orang tua perlu mengajak anak mengadakan rencana masa depan. “Kamu mau masuk SMP mana? Yuk kita mulai kejar dari sekarang supaya kamu bisa lolos ke sana!”

Namun, Mila mengingatkan agar orang tua juga melihat kenyataan. Jika harapan anak terlalu tinggi, maka harus didiskusikan. “Kalau orang tua melihat anak akan sulit masuk ke salah satu sekolah favorit, ia perlu diajak mencari alternatif. ‘Kalau enggak keterima di situ,
kamu mau masuk sekolah mana lagi?’ Namun tentunya orang tua tetap memotivasi anak untuk belajar lebih baik.”

Berdasarkan penelitian, anak-anak yang berhasil ternyata memiliki pengaturan waktu yang baik, tertib mengikuti jadwal, dan disiplin dalam belajar. Itu semua bisa didapat bila anak sudah memiliki self learning regulation.

Namun ingat, selain memotivasi anak untuk belajar, orang tua juga perlu memberinya waktu bermain. Jangan sampai tujuh hari dalam seminggu diisi kegiatan belajar terus-menerus. “Mentang-mentang Senin-nya masuk sekolah, Minggu pun diharuskan belajar. Lebih baik gunakan hari libur sebagai playtime untuk menghindari kebosanan anak akan belajar,” begitu Mila menekankan.

Faras Handayani . Foto: Iman/nakita

KASTA  DI SEKOLAH

KELAS PINTAR DAN KURANG PINTAR

Belakangan makin banyak sekolah yang mengklaim punya kelas-kelas khusus seperti kelas akselerasi dan kelas unggulan, disamping kelas reguler. Inikah pembagian “kasta” yang akan mengkotak-kotakkan anak didik?

Selama ini masyarakat cuma tahu pembagian kelas di tiap jenjang sekadar penamaan. Artinya, kalau ada kelas A, B, dan C itu hanya agar jumlah murid dalam satu kelas tidak mbludak. Akan tetapi di awal tahun 90-an, penamaan kelas disinyalir mengalami pergeseran alias mengandung muatan kepentingan tertentu. Kelas A biasanya diperuntukkan bagi siswa yang memiliki tingkat kecerdasan prima atau jauh di atas rata-rata yang kemudian disebut kelas akselerasi. Lalu kelas B yang disebut kelas unggulan untuk mereka yang relatif pintar. Sementara kelas C atau kelas reguler untuk siswa yang prestasi akademisnya biasa-biasa saja.

Yang lebih memprihatinkan, pengadaan klasifikasi semacam itu bagi anak SD, tidak hanya terjadi di sekolah-sekolah favorit/unggulan yang umumnya merupakan sekolah swasta, melainkan juga sudah mulai merambah ke sekolah-sekolah negeri yang pengelolaannya di bawah naungan pemerintah. Tak heran bila kemudian muncul berbagai ungkapan bernada pesimis. Contohnya, “Apa artinya Pembukaan UUD 45? Bukankah dengan sistem ‘kasta’ begini, anak pintar semakin pintar, sementara anak yang otaknya tidak cemerlang justru akan kian bodoh.”

PERBEDAAN CARA MENGAJAR

Benarkah demikian? Untungnya tidak. Hal ini dijelaskan Margaretha Purwanti, Psi, M.Si. dari Unika Atma Jaya, Jakarta yang berkata, “Proses pembelajaran bagi anak didik, baik di kelas khusus maupun di kelas biasa, intinya sama saja. Yakni menggunakan kurikulum nasional dengan jenis dan jumlah mata pelajaran yang sama.”

“Yang membedakannya,” lanjut Retha, “hanyalah cara si guru mengajar.” Di kelas khusus, para guru benar-benar memposisikan dirinya sebagai fasilitator. Metode yang dipakainya berbeda, beban pelajarannya lebih berat dari biasa, jam belajarnya lebih lama, dengan jumlah murid per kelas yang lebih sedikit.

Tak heran bila mereka belajar lebih cepat ketimbang teman-temannya di kelas biasa, karena di kelas ini guru hanya “bertugas” menyampaikan materi pokok saja. Untuk selanjutnya, siswalah yang mesti aktif mencari dan melakukan berbagai eksperimen.

Sebaliknya di kelas reguler, kecepatan guru mengajar biasanya disesuaikan dengan kemampuan anak-anak. Sebagai konsekuensinya, proses belajar jadi lebih lambat karena guru harus menerangkan satu per satu secara detail. Peran guru pun tak cuma sebatas fasilitator, melainkan berperan penuh sebagai pengarah dan pendamping.

PENTINGNYA SOSIALISASI

Munculnya pandangan pesimis, menurut Retha, boleh jadi karena masyarakat belum paham betul apa yang dimaksud kelas khusus di jenjang pendidikan dasar, selain belum siapnya masyarakat menerima kenyataan dan tuntutan zaman. Bukankah selama ini dianut keseragaman alias harus sama rata.

Di awal diterapkannya program ini, kekhawatiran semacam itu memang muncul dan menjadi perhatian khusus. Bahkan 10 tahun lalu, kala program ini dinyatakan layak untuk diterapkan di Indonesia, para pakar pendidikan dan psikologi pun sudah mempertimbangkan hal-hal yang mungkin terjadi, seperti kemungkinan anak yang masuk kelas khusus bakal merasa eksklusif. Sementara anak di kelas biasa jadi iri atau rendah diri lantaran merasa dirinya terlahir sebagai anak yang tidak pintar.

PAHAMI TUJUANNYA

Retha menegaskan sebenarnya pemisahan kelas seperti ini bertujuan memfasilitasi mereka yang memiliki potensi dan kemampuan di atas rata-rata anak seusianya. “Dengan dimasukkan ke kelas-kelas khusus, diharapkan kemampuan mereka tidaklah sia-sia dan bisa lebih tergali serta terasah optimal.”

Pemikiran semacam itu bertolak dari pengalaman dunia pendidikan Indonesia. “Sering sekali terjadi, kan, kalau anak berbakat dicampur dengan yang biasa-biasa saja, umumnya si anak berbakat merasa bosan. Akhirnya ia mengalami penurunan prestasi atau malah jadi malas bersekolah. Sayang sekali, kan, kalau potensi atau aset berharga ini tersia-siakan begitu saja?”

Nah, agar sisi negatif pemisahan kelas yang kemudian berujung pada pembagian “kasta” tidak terjadi, “Peran aktif guru sangat dituntut untuk bisa mengondisikan anak-anak didiknya,” ujar Retha. Caranya, sekolah yang memiliki kelas-kelas khusus harus punya program belajar bersama. Maksudnya, ada saat-saat tertentu dimana anak dari kelas khusus disatukan dengan anak dari kelas biasa. Contohnya, saat pelajaran kesenian, olahraga, komputer, keterampilan, atau karyawisata.

ORANG TUA PALING TAHU

“Jika di kemudian hari anak menunjukkan peningkatan yang signifikan, sudah seharusnya guru menawarkan anak untuk masuk kelas khusus.” Penawaran seperti ini, menurutnya harus diberlakukan juga pada semua anak saat pemilihan siapa saja yang layak masuk kelas khusus. Selain itu, guru harus bisa menjelaskan kepada anak mengenai perbedaan tersebut, sekaligus berdiskusi dengan orang tua mengenai semua konsekuensi yang akan dihadapi.

Mengingat orang tua merupakan sosok yang paling tahu kondisi anaknya, peran aktif orang tua untuk memberikan pandangan kepada anak sebelum dia mengambil keputusan sangatlah penting. Sekiranya anak tak sanggup, orang tua harus rela mengatakan bahwa tak apa-apa masuk kelas biasa. Toh masuk kelas khusus pun bukan jaminan bahwa kelak anak akan jadi orang sukses.

Idealnya lagi, pemilihan atau seleksi siapa saja yang bisa masuk kelas khusus, dilakukan setelah anak beberapa tahun mengenyam pendidikan di bangku sekolah dasar. “Kurang lebih dilakukan saat anak menjelang naik kelas lima atau enam.” Pertimbangannya, konsistensi belajar dan keberbakatan anak sudah bisa terlihat dari nilai-nilainya, sikapnya, kemampuannya bersosialisasinya, hingga cara belajarnya di kelas.

Adapun 3 syarat yang harus dipenuhi seorang anak untuk bisa masuk kelas khusus adalah skor di atas rata-rata untuk IQ, kreativitas, dan task comitment atau ketekunan dan tanggung jawab terhadap tugas. Idealnya, jika salah satu syarat tersebut tidak terpenuhi, yang bersangkutan tidak diperbolehkan masuk kelas khusus anak berbakat, kelas akselerasi, maupun kelas unggulan.

Sayangnya, tukas Retha, justru inilah yang langka dilakukan sekolah-sekolah di Indonesia yang punya kelas-kelas khusus. Kebanyakan sekolah hanya menggunakan skor IQ semata. Tak heran bila makin banyak sekolah yang memiliki pemisahan kelas-kelas seperti ini, makin banyak pula masyarakat yang mempertanyakan kesungguhan niatnya.

Sayangnya lagi, sekalipun tujuannya baik dan cita-cita membangun kelas-kelas khusus bagi anak-anak berbakat ini sungguh mulia, negara kita ternyata belum siap melakukannya. Kurikulum dan kebanyakan SDM, dalam hal ini guru, belum siap menerapkan program kelas khusus ini. Belum lagi tak sedikit orang tua yang menolak anaknya masuk kelas khusus. “Malah ada, lo, yang terang-terangan memilih mundur dari kelas khusus dengan berbagai alasan. Seperti khawatir anaknya stres karena tak sempat main atau melakukan aktivitas lain.”

Gazali Solahuddin. Foto: Vitri/nakita

Belajar Sejarah

Banyak pihak mempertanyakan manfaat pelajaran sejarah di sekolah. Tak heran kalau pelajaran yang satu ini diusulkan untuk dihapus dari kurikulum SD.

Seiring dengan perjalanan waktu, makin banyak pula peristiwa bersejarah yang tercatat di bumi pertiwi ini. Itu berarti kian tebal pula materi pelajaran sejarah yang mesti dipelajari anak-anak kita. Padahal, mana mungkin seorang anak menghapal semua kejadian, mulai dari zaman kerajaan hingga reformasi. Jangankan anak, orang dewasa pun pasti pusing menghafal nama puluhan kejadian sejarah, mulai tempat dan tahun kejadian maupun pelakunya. “Saya sendiri sebagai sejarawan, tidak hafal semua tanggal dan tahun kejadian sejarah di Indonesia ataupun biografi para pahlawan mulai zaman kerajaan hingga sekarang. Yang saya hafal cuma tanggal kemerdekaan dan Soekarno, Presiden pertama Republik Indonesia,” tutur sejarawan dari LIPI, Prof. Dr. Taufik Abdullah.

Beliau adalah satu dari beberapa cendekiawan yang meragukan sistem pembelajaran sejarah di tingkat sekolah dasar negeri ini. Apa perlunya kita semua menghafal seluruh kejadian sejarah di Indonesia, bahkan di dunia? Tidak adakah cara atau teknik lain untuk mempelajari sejarah selain menghafal tahun, tempat dan pelaku sejarah secara mentah?

Keraguan itu, menurut Taufik, sama sekali tidak identik dengan sikap tidak cinta tanah air. Ia dan yang lainnya semata-mata berpijak pada pengalaman bahwa sejarah yang dipelajarinya sejak tingkat SD hingga SMU sama sekali tidak dirasa bermanfaat begitu mereka memasuki dunia perguruan tinggi atau dunia kerja.

TIDAK BERGUNA

Kesimpulannya, seperti ditegaskan Taufik, menghafal tahun-tahun kejadian sejarah, termasuk tahun-tahun pembodohan selama ratusan tahun menjadi bangsa jajahan tidak ada gunanya. “Mempelajari rentetan kejadian yang pernah dialami bangsa Indonesia, bukanlah urusan anak SD. Itu urusan para ahli sejarah, jadi buat apa anak usia SD mempelajarinya? Bahkan sejarah sebagai disiplin ilmu pun merupakan bahasan mahasiswa di universitas. Makanya salah besar jika sejarah dijadikan disiplin ilmu di tingkat sekolah dasar.”

Sejarah, menurutnya, baru tepat diberikan kepada anak usia SD kalau sebatas wacana. Pendapatnya itu bertolak dari pengamatan, bahwa ditilik dari aspek perkembangan, anak usia ini masih menjalani proses sosialisasi tahap awal untuk mengenal lingkungan dan masyarakatnya. Jadi, akan lebih mengena jika pelajaran sejarah dimulai dari lingkungan sekitarnya dulu, karena “pelajaran” sejarah haruslah memiliki tujuan-tujuan berikut:

* Memperkenalkan anak didik pada lingkungan di mana mereka berada.

* Memperkenalkan dinamika masyarakat yang mereka alami sehari-hari.

* Membuka wawasan anak akan arti hidup dalam kelompok masyakat yang bisa berbeda-beda.

* Memperkenalkan anak akan arti waktu.

* Memperkenalkan etik moralitas dalam kehidupan bermasyarakat.

PESAN EDUKATIF

Yang tidak kalah penting, tandas Taufik, adalah cara pembelajaran sejarah itu. “Lakukan dengan menyertakan contoh-contoh konkret mengenai kejadian sejarah. Jadi, bukan sekadar menghafal kejadian-kejadian masa lalu. Di tingkat SD yang seharusnya diajarkan adalah nilai-nilai atau pesan-pesan moral dan idealisme perjuangan bangsa. Soekarno presiden pertama RI, contohnya, adalah seorang insinyur yang pintar. Di saat itu dia mudah saja memperkaya diri sendiri dengan keahliannya. Namun dia tidak memilih jalur tersebut tapi memilih berjuang serta rela menjadi orang buangan demi kemerdekaan bangsa dan negaranya. Begitu juga dengan Bung Hatta, wakil presiden pertama RI yang bergelar sarjana ekonomi.”

Kalau hal semacam itu yang disampaikan, Taufik yakin anak bisa menangkap pelajaran moralitas yang luhur. Setidaknya anak akan tahu bahwa Soekarno dan Hatta bukan saja proklamator sekaligus presiden dan wakil presiden pertama. Mereka juga akan bangga bahwa bangsa Indonesia merupakan bangsa yang bersatu dan rela berkorban demi kemakmuran rakyat dan negaranya.

Hal lain, anak pun akan tahu arti cita-cita serta perjuangan demi mencapai cita-cita tersebut. Pun anak jadi punya kesadaran bahwa setiap orang harus memiliki cita-cita yang menjadi tujuan hidupnya. Cita-cita inilah yang dalam perjalanannya bisa menjadi motivator bagi diri anak.

Dengan contoh-contoh seperti itu, ia bisa paham akan dirinya yang merupakan bagian dari bangsa Indonesia. Dari situ, diharapkan akan tumbuh pemikiran, “Aku bisa merasakan hari-hari yang menyenangkan seperti ini, dengan bersekolah, main, tidur dan menikmati ini-itu karena pengorbanan para pahlawan. Kalau begitu, supaya semua bisa enak, seluruh warga negara harus memakmurkan bangsa dan negara dulu, bukan malah mengutamakan diri sendiri.”

MULAILAH DARI LINGKUP TERDEKAT

Selain itu, Taufik mengingatkan, bahwa dalam memberikan pembelajaran sejarah, kita tidak bisa menggeneralisasi materi yang akan disampaikan. Setiap anak perlu mengenal lebih dulu sejarah yang paling dekat dengan dirinya. Bagi anak yang tinggal di Jakarta, contohnya, angkatlah topik sejarah yang berkaitan dengan kota Jakarta dan para pahlawannya. Begitu juga dengan kota atau daerah lain.

Dengan kedekatan yang melibatkan kelekatan hubungan emosional akan tumbuh interest untuk belajar sejarah. Tentu saja, itu tidak berarti kita tak perlu menyampaikan sejarah daerah lain, seraya menekankan bahwa pembelajaran sejarah merupakan pendidikan ke arah demokratisasi. Jadi, “Bukannya indoktrinasi seperti selama ini.”

Agar tujuan tersebut tercapai, maka harus dirumuskan strategi pedagogis yang baik. Artinya, harus dirumuskan terlebih dulu apa yang diharapkan dari pembelajaran sejarah terhadap anak. Setidaknya untuk anak SD, anak tahu dirinya adalah anggota suatu masyarakat. Ia jadi tahu pula mana nilai-nilai kebenaran dan mana yang salah dalam mengupayakan pemenuhan cita-citanya.

Sayangnya, seperti diakui Taufik yang pernah membaca buku-buku sejarah tingkat SD hingga SMA dalam 2 versi, buku-buku tersebut tidak memiliki strategi pedagogis yang jelas. “Semua yang ada di buku itu tidak perlu diajarkan. Untuk apa anak-anak SD mempelajari tahun terjadinya sejarah hingga biografi pelakunya?”

Kendati begitu, ia tidak setuju jika gara-gara kualitas buku yang buruk, pelajaran sejarah dihapus dari kurikulum SD. “Hanya saja format pembelajarannya harus diubah, karena syarat sebagai seorang warga negara, kan, dia harus tahu di mana dia hidup dan tahu mengenai sejarah negaranya. Tapi ya tidak berarti semua sejarah dari A sampai Z harus diberikan kepada anak usia ini.”

Cara memberi pembelajaran, menurut Taufik lebih baik dalam bentuk cerita, seperti halnya cerita sejarah dalam pelajaran agama. Dengan cara seperti itu, pendidik bisa menyampaikan pesan yang bisa langsung masuk ke kalbu sekaligus otak anak. Anak pun akan menyukai dan tidak merasa terbebani.

Yang pasti, Taufik menampik kabar mengenai sejarah Indonesia yang telah dimanipulasi. “Sejarah itu tidak bisa diubah. Yang jadi masalah adalah bagaimana cara seseorang menyampaikan atau menceritakan sejarah tersebut. Nah, faktor inilah yang bisa ‘dimainkan’ sehingga bahwa sejarah kemudian dijadikan alat doktrinasi golongan tertentu memang bisa saja terjadi.”

Namun, Taufik yakin hingga sekarang rekaman sejarah di Indonesia benar adanya atau sesuai dengan kenyataan. Kendati begitu, “Kemungkinan salah memang ada, tapi bukan sesuatu yang disengaja. Itulah mengapa sejarah senantiasa perlu diperbaiki atau diluruskan.”

Gazali Solahuddin. Foto; Iman/nakita

di sadur dari

http://www.tabloid-nakita.com/Panduan/panduan05235-02.htm

http://www.tabloid-nakita.com/Panduan/panduan05235-03.htm

http://www.tabloid-nakita.com/Panduan/panduan05235-01.htm


Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: